Waspada! sekolah gratis dapat melumpuhkan

Yang diinginkan orang dalam apapun pada intinya adalah mudah, murah, berkualitas. ketiga keadaan tersebut lebih seperti minyak dan air, sulitsekali bersatunya. Ada yang mudah tidak murah, ada yang murah tidak berkualitas,ada yang berkualitas tidak mudah apalagi murah. semua orang memang ingin ketiganya, walau hampir tidak mungkin didapat ketiganya, sehingga dalam prakteknya tiap orang akan mengambil  prioritas, tergantung situasi dan kondisi kemampuan masing-masing. Ada yang prioritas Mudah walau harus bayar mahal (sogok, suap, pelicin, lewat belakang, naik taxi, pesawat terbang, beli ijazah, pinjam ke rentenir dll), Ada yang prioritas Murah walaupun tidak mudah sambil berharap mudah-mudahan bermutu/bermanfaat. (jalan kaki, naik sepeda, jajan diemper, barang loak, rongsokan, tidak ke salon, cuci mobil sendiri, masak sendiri, minta-minta, mencuri, menawar, dll). Ada juga yang penting kualitas tidak peduli sulit atau mahal (periksa bisul ke Singapure, beli sepatu Cibaduyut di Prancis, kendaraan kelas eksekutif, pesanan khusus, memakai tenaga ahli. Brand/made in dll).

Sekolah gratis itu baik dan jadi harapan semua orang. siapa yang tidak mau gratis, kan? hanya kalau gratis untuk semua, itu tidak memiliki daya saring, yang miskin yang kaya sebeban. Sekolah gratis sebaiknya tidak menyeluruh harus terbatas, untuk siapa, dimana, dan dalam keadaan apa. Menuntut ilmu itu perjuangan, setiap perjuangan menuntut pengorbanan, termasuk pengorbanan biaya. mendapatkan sesuatu akan lebih bermakna kalau hasil jerih payah perjuangan, pengorbanan dan doa. Sesuatu yang dihasilkan dengan perjuangan dan pengorbanan akan lebih berharga, terpelihara dan dipertanggungjawabkan. Beda jika mendapatkan sesuatu(contohnya ijazah) yang didapat secara kurang perjuangan dan pengorbanan (alias gratis dan mudah), bahkan mungkin hasil kecurangan dalam UN atau sekolah bergelar Mie instan. hal ini tidak akan mendapatkan penghargaan melebihi dari yang diperjuangkan semestinya, mungkin beberapa saat akan segera terlupakan atau masuk tong sampah. Generasi dulu Ijazah adalah dokumen yang penting, berharga bahkan melebihi surat tanah, sehingga tersimpan ditempat yang aman dari kerusakan, seperti dalam peti, koper atau yang lebih aman dari itu. Generasi paling kini yang yang pergi ke sekolah hanya mengikuti trend perkembangan jaman dan hanya sebagai ajang pergaulan belaka, yang tidak menganggap  sekolah (menuntut ilmu) sebagai perjuangan dan pengorbanan hidup untuk masa depan diri dan bangsa, maka secarik kertas yang bernama ijazah itu tidak berharga baginya, bahkan masih lebih berharga dan mungkin masih tersimpan dengan aman adalah surat cinta pertamanya, (banyak kasus yang mau melamar kerja datang ke sekolah minta keterangan ijazah hilang, rupa-rupa alasannya. Padahal Ijazah bukan SIM/KTP yang harus dibawa setiap bepergian).

Hilanglah satu Beban, itu moto iklan sekolah Gratis. dimaknai bahwa saat ini  orang tua yang punya anak sekolah sampai tingkat SMP/MTs/sederajat,  tidak perlu terbebani oleh biaya SPP atau Dana Bangunan, termasuk buku dan biaya PSB. semuanya sudah gratis–tis—tis!

Et! tapi Waspada, kalau tidak bijaksan ada virus lumpuh didepan.

Orang lapar mendapat makanan, baik harus dibeli apalagi gratis pasti sangat bersyukur, orang yang kenyang menemukan/dikasih makanan,
jangan menunggu ucapan terimakasih, dia tidak sedang butuh jangankan harus beli dikasihpun tidak mau. Sekolah gratis akan bermakna jika tepat kepada siapa, dalam kondisi apa, dan untuk yang bagaimana. tidak semuanya harus gratis, sebab akibat lain dari gratis tidak mendidik tanggung jawab dan perjuangan baik masyarakat, orang tua termasuk anak didik. Ingat hidup penuh persaingan, jangan sampai "gratis" meninabobokan generasi yang mungkin bisa melumpuhkan semangat bejuang dan berkorban.Sekolah memang harus dibuat lebih mudah tapi semangat untuk menghargai perjuangan/jerih payah jangan  melemah sebagai efek negatif dari sekolah gratis.

Dulu kita pernah dimanja oleh sumber daya alam yang subur dan serba mudah,  sehingga orang bilang (entah orang mana) tanah kita tanah surga, bukan lautan tapi kolam susu, ikan dan udang pun menghampiri tak perlu dicari, tongkat dan batu pun bisa jadi tanaman,  untuk apa kerja keras semua ada, tersedia.

Apa jadinya sekarang?  tikus mati  di lumbung padi karena kelaparan.

Satu Tanggapan

  1. […] Waspada! sekolah gratis dapat¬†melumpuhkan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: