Dari Pendidik untuk Koruptor

Apakah dunia pendidikan perlu/harus merasa berdosa ketika maraknya kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh yang seharusnya terhormat para  anggota dewan? sebab pada dasarnya dengan penuh keyakinan mereka pasti telah melalui proses pendidikan dan pembelajaran mungkin mulai TK, SD, SMP, SMA (atau yang sederajat) sampai Perguruan Tinggi. 

yang saya tahu di dunia pendidikan diajarkan bagaimana, mengolah pikir, mengolah rasa, mengolah raga, sehingga dapat membangunkan potensi daya cipta, rasa dan karsa yang bisa bermanfaat baik untuk dirinya maupun lingkungannya. Tapi yang muncul belakangan setelah melalui proses pendidikan yang panjang itu hasilnya jauh panggang dari pada api. justru yang banyak muncul hanya untuk kegunaan dirinnya dan mengecewakan lingkungan (orang lain termasuk para pendidiknya)

Tidak ada kebanggaan sedikitpun bagi dunia pendidikan (sekolah) atas telah terpilihnya sang alumni menjadi seorang dewan/pejabat yang  korup, bahkan untuk mengakuinya sebagai alumnipun teramat malu.

Lebih parah lagi, yang paling ditakutkan setelah duduk sebagai anggota dewan dan terlibat korupsi dapat dipastikan dalam membuat kebijakanpun akan focus bagaimana melindungi perbuataanya dengan cara menutupi kebejadannya atau membuka peluang agar makin banyak teman sepenghianatannya itu.

Membayangkan keadaan seperti ini, maunya saya menprovokasi semua pendidik untuk menyampaikan kutukan terhadap mereka, yang diharap jera dan malu, tapi saya pikir untuk ini terserah anda.

Apakah keadaan seperti itu ada salah didik dalam dunia pendidikan?

Ada atau tidak ada, dunia pendidikan tetap bertanggung jawab untuk turut menata prilaku bangsa ini terlepas apakah nanti menjadi pejabat ataupun  rakyat dunia pendidikan harus mampu merancang masa depan prilaku bangsa untuk lebih bermartabat.

3 Tanggapan

  1. Ada yang bilang maraknya korupsi dosa dari pendidikan, yang bilang pakar pendidikan, yang korupsi juga pasti mengenyam dan ahli pendidikan, yang dikorupsi duit untuk pendidikan, ya itulah pendidikan di Indonesia, belumm ada penghargaan bagi pendidikan, yang pinter paling jarang masuk TV beda sama yang pantatnya bagus goyangnya tiap hari pastu masuk berita, sudah saatnya menghargai pendidikan agar pendidikan itu sendiri mnghargai kita.

  2. Tulisan yang menarik.
    Disekolah saya sedang ditanamkan terus upaya penanaman profil dan perilaku yang insya Allah mencegah mereka jika dewasa nanti berbuat diluar hati nuraninya.

  3. salam kenal,sama seperti pedang pendidikan juga tergantung dari siapa yang memegang atau menuasainya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: